Category Archives: Parenting

Tips Hamil Anak ke 2

Tips Hamil Anak ke 2 – Salam hormat Dokter Judi. Dua tahun lalu saya (29) melakukan operasi pengangkatan janin karena meninggal di usia 7 bulan tanpa sebab pasti. Namun menurut dokter, janin gagal berkembang. Sekarang saya hamil 5 minggu. Tentu saya bahagia namun tak bisa dipungkiri ada perasaan waswas kejadian yang sama bisa terulang. Mohon pencerahan apa yang harus saya perbuat agar kehamilan bisa lancar dan janin tumbuh sehat. Terima kasih atas jawabannya. Diah Mustikasari – Malang

Kematian memang merupakan rahasia Allah SWT. Dari dunia kedokteran, untuk mencari sebab kematian perlu dilakukan autopsi atau bedah mayat. Kematian janin Ibu pada kehamilan tujuh bulan dapat disebabkan oleh beberapa faktor, misal cacat bawaan jantung, gangguan pertumbuhan janin (intra uterine growth restriction), infeksi, simpul mati tali pusat, atau mungkin memang kita belum mampu mengetahuinya. Pemeriksaan plasenta, cairan ketuban, darah janin, atau autopsi dapat membantu mencari sebab kematian. Sejatinya, sebelum kehamilan berikutnya, lakukan pemeriksaan kesehatan secara umum Ibu dan suami (general check­up), atasi penyakit yang diderita agar saat hamil Ibu dalam keadaan optimal. Konsumsi asam folat minimal 1 mg per hari, setop merokok, hindari narkotika, dan makan minum yang sehat.

Selanjutnya lakukan analisis sperma untuk mencari apakah ada kelainan bentuk, jumlah, dan kecepatan gerak sperma suami Ibu. Pemeriksaan perempuan jauh lebih kompleks, dimulai dengan pemeriksaan fisik umum (apakah ada penyakit gondok, jantung, paru, atau ginjal), pemeriksaan hormon kesuburan, pemeriksaan infeksi pada vagina dan saluran kemih (urine), uji Pap smear, USG transvaginal, dan kultur (biakan) kuman dari vagina dan urine. Semua pemeriksaan tersebut dapat dilakukan di rumah sakit tipe A; di Malang dapat dilakukan di RS Pendidikan FK Universitas Brawijaya.

Artikel lainnya : Kursus Bahasa Inggris Jakarta Selatan

Setelah semua hasil pemeriksaan ada, maka dokter kandungan akan merangkum dan menyimpulkan (diagnosis) serta apa rencana penanganan Ibu selanjutnya. Di kehamilan Ibu kali ini, teruslah berkonsultasi dengan dokter kandungan di Divisi Kedokteran Fetomaternal untuk menilai secara dini kehamilan dan apakah ada faktor risiko kematian janin. Pemeriksaan darah Ibu, hormon progesteron, hormon free­beta HCG, darah lengkap, penapisan anemia, GTT dengan beban glukosa 75 gram, infeksi Hepatitis B, HIV, dan penyakit kelamin. Urine lengkap juga perlu diperiksa.

Ada pemeriksaan khusus yang masih sulit dilakukan di Indonesia dan mahal adalah: NIPT untuk mencari kelainan kromosom (Trisomi 13, 18, dan 21), PAPP­A untuk risiko kelainan janin, dan Doppler USG arteri uterina. Pemeriksaan USG transvaginal serial setiap 1–2 minggu pada trimester pertama untuk memantau kecepatan tumbuh janin (CRL) 1 mm/hari, frekuensi dan keteraturan denyut jantung janin, volume cairan ketuban, dan kondisi rahim dan indung telur. Pemeriksaan kehamilan terkini adalah lebih sering pada trimester pertama untuk mencari risiko kehamilan bagi ibu dan janin. Lakukan penapisan (skrining USG) pada kehamilan 11–14 minggu, 20–22 minggu, dan 28–32 minggu sesuai standar POGI (Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia). Jangan lupa untuk selalu berdoa, memohon yang terbaik dari Allah SWT. Terima kasih atas pertanyaannya

MAU BICARA DENGAN BAYI?

Setiap bayi sejatinya dapat berkomunikasi. Tentu awalnya bukan dengan berkata-kata karena bayi memang belum bisa berbicara melainkan dengan menggunakan bahasa isyarat, entah dengan menggerakkan jari, tubuh, atau anggota badan lainnya. Komunikasi juga dapat dilakukan dengan suara-suara tertentu. Nah, supaya komunikasi antara kita dan bayi nyambung, hal pertama yang harus dipahami adalah jangan kaku saat mengajarkan bahasa isyarat pada bayi. Jadi, orangtua terlebih dahulu harus belajar memahami bahasa isyarat yang sudah dimiliki bayi.

Pasalnya, bayi sebenarnya sudah mempunyai bahasa isyarat sendiri yang terjadi secara almiah, contoh mengucek-ngucek mata jika dia mengantuk. Jika ada hal yang belum terwakilkan dalam bahasa isyaratnya, barulah bayi diajarkan bahasa isyarat untuk itu. Tentu bahasa isyarat yang diajarkan harus sederhana dan mudah. Contoh, saat lapar biasanya bayi berkomunikasi dengan cara menangis, sedangkan menangis sendiri mengandung banyak arti. Karena itu, ajari bayi bahasa isyarat untuk makan. Caranya, arahkan tangan kanan bergerak ke mulut secara berulang-ulang, sebagai bahasa isyarat dirinya ingin makan. Cara mengajarkannya pun harus pakai trik. Tidak bisa kita langsung dudukkan bayi di hadapan kita dan berkata. “Kalau mau makan, begini ya,” sambil memeragakan bahasa isyarat yang dimaksud. Pastilah si kecil akan sulit menerima atau bahkan kita malah dicuekin.

Cara yang tepat, saat dia menangis dan ternyata tangisannya itu bermaksud menyampaikan, “Aku lapar, ingin makan nih, Ma” langsung kita berikan dia materi bahasa isyarat yang mengisyaratkan ingin makan. Bisa juga, saat waktu makan tiba ajarkan, “Kita makan yuk, Nak,” sambil menggunakan bahasa isyarat menggerakkan tangan kanan berulang-ulang ke mulut. Dengan cara seperti itu, bayi akan melihat dan belajar, “Oh, kalau ingin makan, tangan harus digerakkan ke mulut.” Bisa juga diartikan, “Kalau tanganku digerakkan ke mulut seperti itu, aku akan diberi makan oleh Mama.” Perlu diingat, pelajaran bahasa isyarat yang diajarkan jangan terlampau banyak. Cukup ajarkan satu, dua atau tiga bahasa isyarat. Setelah bayi menguasai, barulah ajarkan bahasa isyarat baru. Bentuk bahasa isyarat yang kita berikan pada bayi bebas, tak ada patokan mutlak seperti apa. Yang penting, harus dapat dipahami oleh kedua belah pihak, bayi dan orangtua, juga mudah dilakukan oleh bayi. Sedangkan kapan kita mulai mengajarkan bahasa isyarat, bisa kapan saja. Sejak dini pun tidak mengapa. Karena yang terpenting di sini bukanlah kapan mulai mengajarkannya, melainkan kesabaran, konsistensi, dan kekreatifan orangtua

Tips Langsing Setelah Melahirkan

Dengan menghindari aneka makanan berikut, Mama akan lebih mudah mengupayakan perut buncit menjadi rata.

1. Roti putih dan nasi putih. Makanan sumber karbohidrat ini paling berpotensi membuat perut buncit. Studi yang dilakukan oleh Tufts University di Boston, Amerika Serikat menemukan, perut buncit paling banyak disebabkan terlalu banyak mengonsumsi roti dan nasi. “Dalam penelitian ini kami ingin menunjukkan bahwa karbohidrat bisa menjadi musuh bagi tubuh jika kita salah memilih jenisnya,” ujar peneliti Katherine Tucker, PhD. Jenis karbohidrat yang dimaksud adalah yang cepat diubah menjadi gula, seperti nasi putih dan roti putih itu.

2. Makanan olahan. Makanan kemasan, daging olahan, hingga makanan dan minuman manis kerap menjadi menu sehari-hari. Menurut Kate Patton, ahli diet di Cleveland Clinic, Ohio, Amerika, makanan olahan cenderung meningkatkan peradangan dalam tubuh. Kita bisa mengenali adanya peradangan ini bila kita sering merasa pegal atau nyeri dan tidak bugar kala bangun tidur, Ma. “Lemak perut sangat erat kaitannya dengan peradangan. Jika kita makan terlalu banyak makanan olahan, kemampuan tubuh untuk membakar lemak di perut jadi terhambat,” paparnya.

Baca Juga : Tes Toefl Jakarta

3. Garam yang berlebihan. Garam dan makanan yang terlalu asin sangat memengaruhi lemak di perut. Studi yang dilakukan Queen Mary University di London mengungkapkan hubungan antara lemak di perut dengan asupan garam. Menurut penelitian ini, mengurangi garam sama dengan mengurangi lemak di bagian perut. Mengonsumsi 1 g garam tambahan ternyata meningkatkan risiko lemak di perut sebesar 25%. Kandungan natrium dalam garam dapat mengubah metabolisme yang mengubah cara kerja tubuh menyerap lemak.